Sabtu, 15 Oktober 2016


Efektivitas Implementasi K-13

Pengertian Pembelajaran Tematik Terpadu
Pembelajaran tematik merupakan salah satu pendekatan dalam mengintegrasikan kurikulum. Pendekatan ini diusulkan oleh Forgaty (2009) pertama kali pada tahun 1991. Forgaty (2009) mengusulkan 10 cara pendekatan dalam mengintegrasikan kurikulum, sehingga menghasilkan 10 model. Pada bagian ini akan dipaparkan model yang digunakan Kurikulum 2013, yakni model webbed. Kurikulum webbed merepresentasikan pendekatan tematik untuk mengintegrasikan kurikulum. Pendekatan tematik dimulai dengan menentukan suatu tema untuk dikembangkan. Tema adalah sebuah gagasan besar yang menjadi pusat dari pengembangan kurikulum dan memicu siswa untuk belajar. Tema dapat dianalogikan dengan sebuah payung yang darinya menyebar berbagai mata pelajaran.
Pembelajaran tematik mengandung aktivitas pembelajaran dan pengamalanpengalaman yang menghubungkan berbagai materi dari berbagai disiplin ilmu. Satuan pembelajaran tematik dapat terdiri dari dua mata pelajaran atau lebih. Pemersatu mata pelajaran adalah tema sehingga siswa tidak lagi belajar mata pelajaran secara terkotak-kotak, tetapi belajar secara utuh (holistik). Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran tematik adalah menggunakan desain webbed atau jaring. Model ini dianalogikan sebagai sebuah teleskop yang memandang “konstelasi” berbagai disiplin ilmu dalam satu kesatuan utuh (Fogarty, 1991; 2009).
Konsep Dasar Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. (Poerwadarminta, 1983).Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
Dalam bukunya, Interdisciplinary Curriculum: Design and Implementation, Jacob (1989) menjelaskan bahwa tumbuh kembangnnya minat dan kebutuhan atas kurikulum terpadu (integrative curriculum) dipicu oleh sejumlah hal berikut ini.
  1. Perkembangan pengetahuan Perkembangan pengetahuan tumbuh sangat pesat dalam berbagai bidang. Kemajuan tersebut tidak serta merta dapat diadopsi dalam kurikulum. Akibatnya, apa yang sedang dan telah dipelajari siswa kerap basi dan usang karena telah tertinggal jauh oleh perkembangan yang terjadi.
  1. Fragmentasi jadwal pembelajaran (fragmented schedule)
Merancang dan melaksanakan pembelajaran di sekolah dibentengi oleh satuan waktu yang disebut menit. Karena waktunya sudah habis, kegiatan yang sedang berlangsung terpaksa harus diputus, dan segera berpindah pada pelajaran yang baru. Para siswa belajar dengan terpenggal-penggal dan terputus-putus tanpa mempedulikan ketuntasan dan keutuhan.
  1. Relevansi kurikulum
Kegiatan pembelajaran yang dialami anak menjadi membosankan dan tidak berguna, ketika mereka tidak mengerti untuk apa mempelajari Matematika, IPS, IPA, dan sebagainya. Pembelajaran hanya dilakukan demi pelajaran itu sendiri, atau sekedar menghadapi tes dan ujian. Padahal, ketika bangun dipagi hari atau begitu menamatkan sekolah, anak dihadapkan pada sekeranjang masalah kehidupan nyata yang memerlukan pemecahan secara baik dan dari berbagai sudut pandang. Persoalan itu pulalah yang kerap memicu perdebatan tentang apa tujuan pendidikan sekolah, apa yang harus dialami dan dipelajari anak, dan bagaimana semestinya pendidikan itu dilaksanakan. Kurikulum menjadi relevan dan bermakna ketika pelajaran-pelajaran yang harus dikuasai siswa terkait satu sama lain.
  1. Respons masyarakat terhadap fragmentasi pembelajaran
Ketika seorang calon dokter dididik menjadi dokter, ia tidak hanya diajar tentang hal-hal yang bersifat fisik, biologis, dan media, ia pun diajari pula tentang filosofi manusia, psikologi, etika, dan komunikasi yang dapat membekalinay dengan penyikapan terhadap manusia secara utuh. Spesialisasi memang penting, tetapi pendulum akan tetap bergerak dan mengarah pada keseimbangan. Karena itu pula, interdisiplin akan membantu siswa untuk dapat lebih baik dalam mengintegrasikan pengetahuan dan strategibelajarnya guna menghadapi kompleksitas dunia.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Menurut Depdiknas (2006: 6), pembelajaran tematik memiliki beberapa
ciri khas yaitu:
  1. Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar.
  2. Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
  3. Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.
  4. Membantu mengembangkan keterampilan berfikir siswa.
  5. Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lungkungannya dan,
  6. Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Selain itu, menurut Depdiknas (2006) sebagai model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik antara lain:

a. Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student center), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan untuk melakukan aktifitas belajar kepada siswa. 

b. Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak dikemudian hari.

c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Hal ini karena fokus pembelajaran diarahkan kepada pembelajaran terhadap tema-tema yang paling dekat serta berkaitan dengan kehidupan siswa.

d. Menyediakan konsep dari berbagai mata pelajaran.
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

e. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana siswa dan sekolah tersebut berada. 

f. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Pembelajaran tematik mengadopsi prinsip belajar PAKEM yaitu pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Manfaat Pembelajaran Tematik Terpadu
Adapun manfaat pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
  1. Membantu siswa mengkaitkan berbagai macam pengetahuan dan bagaimana cara menghubungkan pengetahuan dengan pengetahuan pada disiplin ilmu yang berbeda.
  2. Menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata.
  3. Senantiasa membuat siswa terlibat dalam proses pembelajaran melalui aktivitas yang menyenangkan.
  4. Siswa memperoleh berbagai macam cara belajar.
  5. Guru menjadi lebih kreatif.
  6. Siswa memiliki kesempatan untuk memilih topic pembelajaran.
  7. Menggunakan pembelajaran kooperatif.
  8. Memanfaatkan teknologi dalam ruang kelas.
  9. Memadatkan kurikulum.
  10. Menghemat waktu karena dapat digunakan untuk membelajarkan beberapa mata pelajaran dalam satu waktu.
Kekurangan Pembelajaran Tematik Terpadu
Adapun kekurangan pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
  1. Beberapa siswa mungkin akan kehilangan minat.
  2. Siswa/guru dapat merasa bosan dengan satu tema.
  3. Menurunnya minat dapat menyebabkan siswa menjadi pasif.
  4. Apabila salah seorang siswa tertingga satu hari pembelajaran, maka siswa tersebut akan kehilangan konektivitas.
  5. Pekerjaan guru menjadi lebih banyak dan kompleks.
  6. Siswa yang kurang menyukai tema yang dipilih akan cenderung pasif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar